Jam 2 Pagi, dan Seorang Ayah yang Menangis Diam-Diam

·

kid sleeping on red and gray bed

Pernahkah kamu terbangun jam 2 pagi,
lalu tanpa alasan jelas, melangkah pelan ke kamar mereka (anak dan istrimu) ?

Lampu dimatikan. Nafas mereka teratur.
Wajah kecil itu tertidur begitu damai, seolah dunia belum pernah menyentuhnya dengan kejam.
Dan di momen itulah, seorang ayah seringkali menjadi paling jujur pada dirinya sendiri.

Rasa bersalah datang tanpa diundang.
Dadamu tiba-tiba sesak.

“Maafin Ayah ya, Nak…”

Hari ini Ayah berangkat saat kamu belum bangun.
Hari ini Ayah pulang saat kamu sudah terlelap.
Bahkan saat Ayah ada di rumah, badannya memang di sini —
tapi pikirannya masih tertinggal di pekerjaan, di angka-angka, di tanggung jawab yang tak pernah habis.

Kamu menatap mereka lebih lama.
Dan ketakutan terbesar itu muncul pelan-pelan:

Bagaimana kalau kamu tumbuh besar… tanpa benar-benar mengenal siapa Ayahmu?

Di keheningan malam, pertanyaan-pertanyaan itu menyerang tanpa ampun.
Bukan dari orang lain. Tapi dari hatimu sendiri.

“Apakah aku sudah cukup baik buat mereka?”
“Apakah keringatku hari ini cukup untuk masa depan mereka?”
“Apakah istriku benar-benar bahagia hidup denganku yang serba pas-pasan ini?”

Rasanya takut sekali.
Takut mengecewakan dua orang yang paling kamu cintai di dunia ini.

Kamu ingin melindungi mereka dari segalanya.
Tapi sambil menatap mereka tidur, kamu sadar satu hal yang paling menyakitkan:

Kamu tidak bisa melindungi mereka selamanya.

“Ayah takut umur Ayah nggak panjang, Nak…”
“Ayah takut nggak bisa ada di sana saat kamu jatuh dan butuh tangan untuk bangkit.”

Air mata itu jatuh.
Bukan karena sedih.
Tapi karena cinta yang terlalu besar… bercampur dengan takut kehilangan.

Dan di titik ini, izinkan aku menjawab satu hal yang sejak tadi menghantui kepalamu.

Tenanglah, Yah.
Jawabannya IYA.

Jika malam ini kamu bertanya,
“Apakah aku ayah yang baik?”
Maka jawabannya adalah: IYA.

Karena ayah yang buruk tidak akan pernah bertanya seperti itu.
Dia tidak peduli. Dia masa bodoh.
Kekhawatiranmu adalah bukti cintamu.
Air matamu adalah bukti ketulusanmu.

Jadi sekarang…
hapus air matamu.

Tidurlah dengan tenang malam ini.
Mungkin kamu belum sempurna.
Mungkin waktumu masih terbagi-bagi.

Tapi berjanjilah satu hal pada dirimu sendiri:

“Besok, Ayah akan berusaha hadir lebih utuh.”
“Besok, Ayah akan berjuang sedikit lebih keras lagi.”

Demi senyum mereka…
saat bangun pagi nanti.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *