Membenci Itu Capek, yang Sakit Malah Jantung Kita Sendiri

·

Di satu obrolan malam, seorang teman cerita sambil ketawa kecil, tapi matanya nggak ikut ketawa. “Gue masih nggak bisa lupa, bro. Setiap keinget dia, dada gue langsung sesak.” Yang diceritakan? Entah di mana. Mungkin sudah tidur nyenyak. Mungkin lagi makan enak, nggak mikirin apa-apa.

Yang begadang sambil muter ulang kejadian lama, malah kita sendiri.

Aku pribadi makin percaya, membenci itu melukai tubuh sendiri. Kita kira benci itu senjata buat orang lain, padahal rasanya lebih mirip beban yang kita pikul ke mana-mana. Dibawa kerja, dibawa pulang, dibawa tidur. Orang lain jalan terus, kita yang berhenti di kejadian itu, lagi dan lagi.

Ada ungkapan lama yang menurutku pas banget: kebencian itu ibarat meminum racun, tapi berharap orang lain yang sakit.

Padahal, siapa yang menelan? Kita. Siapa yang lambungnya panas, kepalanya penat, dadanya berdegup lebih kencang setiap kali nama itu lewat? Kita juga.

Dan ini bukan cuma soal perasaan. Setiap kali amarah itu naik, tubuh ikut masuk mode siaga. Napas jadi pendek, bahu menegang, jantung memompa lebih keras. Sekali-dua kali mungkin terasa biasa saja. Tapi kalau dipelihara bertahun-tahun, sel-sel otot jantung kita sendirilah yang akan merasakan dampak dan tekanannya, menemani setiap dendam yang nggak kunjung kita letakkan.

Makanya, melepaskan benci itu sebenarnya bukan hadiah buat orang yang menyakiti kita.

Bukan berarti perbuatannya jadi benar. Bukan berarti kita harus dekat lagi, percaya lagi, atau pura-pura nggak pernah terjadi apa-apa. Memaafkan dan menjaga jarak itu bisa jalan barengan. Kita cuma berhenti memberi orang itu akses gratis ke kepala dan jantung kita.

Jadi, kalau hari ini kamu masih menyimpan marah yang lama, mungkin pertanyaannya bukan cuma “Dia pantas dimaafkan nggak?”, tapi juga “Sampai kapan tubuhku harus ikut menanggung ini?”

Hidup sudah cukup melelahkan tanpa harus membawa racun ke mana-mana.

Letakkan saja pelan-pelan. Bukan demi dia. Demi jantungmu sendiri, yang sudah cukup lama bekerja terlalu keras untuk sesuatu yang seharusnya sudah selesai.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *