Di satu obrolan malam, seorang teman cerita sambil ketawa kecil, tapi matanya nggak ikut ketawa. “Gue masih nggak bisa lupa, bro. Setiap keinget dia, dada gue langsung sesak.” Yang diceritakan? Entah di mana. Mungkin sudah tidur nyenyak. Mungkin lagi makan enak, nggak mikirin apa-apa.
(more…)Category: Opini
-

Jam 2 Pagi, dan Seorang Ayah yang Menangis Diam-Diam
Pernahkah kamu terbangun jam 2 pagi,
lalu tanpa alasan jelas, melangkah pelan ke kamar mereka (anak dan istrimu) ?Lampu dimatikan. Nafas mereka teratur.
(more…)
Wajah kecil itu tertidur begitu damai, seolah dunia belum pernah menyentuhnya dengan kejam.
Dan di momen itulah, seorang ayah seringkali menjadi paling jujur pada dirinya sendiri. -

Lelah Seorang Ayah
Pagi ini datang lagi — tanpa permisi, tanpa jeda.
Sama seperti kemarin, dan hari-hari sebelumnya.Buat sebagian orang, pagi mungkin terasa segar, penuh harapan baru. Tapi buat seorang ayah, pagi seringkali terasa seperti kelanjutan dari hidup kemarin yang belum selesai. Masih ada lelah yang menempel, target yang belum tergaet, harapan yang terasa makin jauh, dan sisa-sisa semangat yang kadang compang-camping, terbanting di antara rutinitas.
(more…) -

Aku Mulai Berdamai dengan Diriku Sendiri
Suatu malam, aku duduk sendirian di kamar. Lampu kamar nggak terlalu terang, cuma cukup buat lihat pantulan bayangan di kaca. Entah kenapa malam itu terasa lebih tenang dari biasanya. Mungkin karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama… aku nggak lagi marah sama diriku sendiri.
(more…) -

Kerja Tapi Rasanya Main-Main, Hidup Jadi Ringan-Ringan Aja
Di antara hiruk-pikuk orang ngeluh hari Senin, ada satu obrolan ringan di pojok ruang kantor. Seorang teman nyeletuk sambil ngopi, “Gue heran deh, lu kok keliatan santai banget kerjaannya. Kayak nggak stres sama sekali.” Yang ditanya cuma senyum, terus jawab, “Soalnya gue kerja kayak lagi main, bro.”
(more…) -

Maaf ya, Nak… Ayah Juga Lagi Belajar
Di ruang tengah yang lampunya agak redup, seorang ayah duduk sendirian. Di meja kecilnya ada cangkir kopi yang sudah dingin. Di kamarnya, anaknya sudah tidur, tapi rasa bersalah di dada ayah itu justru makin terasa saat malam datang. Bukan karena dia nggak sayang. Tapi karena dia tahu… akhir-akhir ini, sikapnya sering terasa dingin. Seringkali, kata-katanya terdengar keras. Padahal hatinya nggak pernah bermaksud seperti itu.
(more…) -

Hidup Kita Baik-Baik Saja, Sampai Lihat Standar Hidup Orang Lain
Di sebuah kafe kecil yang selalu ramai tiap sore, ada seorang cowok bernama Adit. Hidup Adit, kalau dipikir-pikir, sebenarnya nggak ada masalah besar. Punya kerjaan tetap, teman-teman seru yang selalu ada kalau diajak nongkrong, dan keluarga yang supportif walau kadang bawel. Intinya, hidup Adit ya berjalan lancar-lancar aja.
(more…) -

Langkah Kecil, Perubahan Besar: Solusi untuk Hidup Lebih Produktif
Pernah nggak sih, kita merasa penuh semangat di awal tahun? Bikin resolusi gede-gedean seperti, “Tahun ini gue bakal jadi versi terbaik diri gue.” Tapi, kenyataannya, seminggu berlalu, dua minggu lewat, tahu-tahu kita malah asik marathon serial favorit sambil bilang, “Nanti aja deh mulai serius.” Masalahnya, sering kali “nanti” itu nggak pernah datang.
(more…) -

Tempat Pulang yang Nyaman
Pernah nggak sih, merasa ada hari-hari di mana semuanya terasa berat? Bangun pagi sudah dikejar-kejar pekerjaan, perjalanan macet, dan begitu sampai rumah, rasanya cuma ingin rebahan tanpa pikir apa-apa. Buat laki-laki, sering kali semuanya terlihat sederhana. Nafsu bisa “dibeli,” lapar tinggal ke warung, rumah berantakan? Tinggal bayar ART.
(more…) -

Jadi Programmer Pragmatis: Fokus Pada Solusi, Bukan Alatnya!
Ketika berbicara tentang pengembangan perangkat lunak, sering kali kita terjebak dalam diskusi panjang tentang bahasa pemrograman atau framework mana yang terbaik. Laravel atau Django? Next.js atau React? Namun, apakah benar ini yang seharusnya menjadi fokus utama kita? Jawabannya sederhana: tidak. Yang seharusnya menjadi prioritas adalah solusi apa yang bisa kita berikan untuk masalah yang ada.
(more…)
